Photography “mengapa harus permasalahkan brand gear ?”

Banyak orang yang bertanya lebih bagus mana hasil jepretan camera DSLR Nikon atu Canon? Menjawab permasalah seperti ini tentunya antara nikonian dan canonian memiliki jawaban dan alasan tersendiri tentang kualitas gear yang mereka gunakan. Bahkan terkadang perang dan perseteruan seputar masalah brand camera ini, masing-masing komunitas mengklaim bahwa gear (nikon Vs Canon) yang mereka gunakan lebih bagus dan saling menyudutkan. Perseteruan antara komunitas nikonian dan canonian inilah yang paling hot  jika dibandingkan dengan brand camera lainnya. Hal ini terjadi karena kedua brand camera inilah yang familiar dan sering digunakan oleh sebagian besar pecinta photography jika dibandingkan dengan beberpa brand camera lainnya.

Sebenarnya dari penjelasan diatas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa dua produsen camera (nikon dan canon) merupakan perusahan raksasa yang mencetak product kamera dengan kualitas yang sama-sama baiknya. Dari segi strategi pemasaran memang kedua produsen ini saling berlomba-lomba untuk terus mengembangkan teknologi dan sama-sama memiliki keunggulan tersendiri pada teknologi yang digunakan. Dengan kesimpulan bahwa kedua kamera ini sama-sama memiliki kualitas yang baik, jika kedua brand camera ini sama-sama memiliki kualitas buruk, tentu saja kedua brand ini tidak akan memiliki pendukung yang sama-sama fanatik dan menjadi produk yang banyak digunakan. Kita tidak bisa mengklaim mana dari dua product ini yang lebih baik.

Keduanya perusahaan ini saling susul-menyusul dari segi teknologi, bahkan Keduanya saling mencontek dan meniru teknologi yang dilakukan pesaingnya. Sebagai contoh, teknologi auto-fokus pertama dikembangkan oleh Leica yang mempresentasikan Correfot sebagai kamera SLR pertama yang mempunyai teknologi auto-focus. Sedangkan Konica mencatatkan sejarah sebagai perusahaan yang pertama kali memproduksi kamera poket yang mempunya kemampuan auto-focus. Teknologi auto-focus ini kemudian dicontek oleh Nikon dan Canon dengan strategi yang berbeda. Nikon mengadopsi teknologi yang dilakukan oleh Minolta (Minolta Maxxum 7000 sebagai kamera SLR pertama yang terintegrasi secara utuh dalam body kamera, yaitu Auto-focus, motor penggerak lensa dan motor penggerak film), sedangkan Canon mengadopsi teknologi EOS mereka dengan meletakkan motor penggerak lensa di lensa mereka. Strategi ini lalu kemudian dicontek oleh Nikon dengan mengeluarkan sistem AF-S. Bukan hanya itu saja, saling mengejar teknologi  antar kedua brand juga terjadi diberbagai segmen dan fitur camera lainnya.

Dengan catatan kecil ini, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa kita tidak dapat mengklaim gear yang kita pakai lebih bagus dan sempurna. Semua brand camera memiliki beberapa keunggulan tersendiri dan juga kelemahan tentunya. Masing-masing photographer memiliki pertimbangan tersendiri baik itu dari segi kualitas, karakter camera  bahkan juga dari segi finansial. Letak dari photography sebenarnya bukanlah dari brand gear yang kita pakai tetapi lebih dari skill personal di balik view finder.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: